Senin, 27 April 2009

Gunung Manglayang, Bandung.


-->Amateur Avontourir

-->
Bila kita sedang berkendara di Jalan Soekarno-Hatta Bandung ke arah Cibiru, maka segera sebuah jembatan akan kita lewati sebelum Pasar pakaian bekas Gede Bage. Di atas jembatan itu lihatlah ke kiri, serangkaian gunung-gunung indah yang dengan megahnya berjejer memanjang dari timur yaitu Gunung Manglayang sampai ke barat terus bersambung dengan bukit-bukit kapur di Padalarang.

Memang Kota Bandung dikelilingi oleh gunung. Menurut mitos, dahulu kala Kota Bandung yang sekarang ini adalah sebuah gunung yang sangat besar. Gunung Sunda namanya. Bayangkan saja, gunung-gunung yang mengelilingi kota bandung adalah sisa-sisa dari gunung sunda yang meletus. Bagian puncak dan badan utama Gunung Sunda hancur dan luluh hingga terbentuklah Danau Bandung, menyisakan “bukit-bukit kecil” yang mengelilingi kota danau ini.

Sudah hampir tiga tahun aku kuliah di kota ini, di jatinangor lebih tepatnya. Tertantang juga hati ini untuk menaklukkan puncak-puncak deretan gunung itu. Dengan pertimbangan, waktu luang yang hanya tiga hari dan uang bulanan yang telah menipis, maka Gunung Manglayang adalah pilihan tepat yang tidak menghabiskan banyak biaya.

27 Maret 2009, jam di handphone telah menunjukkan pukul 16.30, akhirnya dia datang juga, Ilham, teman satu kelas di kampus, hanya berdua kami akan menaklukkan Puncak Manglayang. ....
Dari Masjid Ibnu Sina Kampus Unpad Jatinangor, kami berangkat menuju Bumi Perkemahan Kiara Payung, trus titip motor di rumah penduduk. Kemudian kami langsung bergerak menyusuri jalan aspal yang sudah rusak berat menuju pos pendakian pertama. Tampaknya sudah tidak digunakan lagi, tidak ada tiket masuk yang harus dibeli.
18.00 wib.
Kami sampai di pos pertama. Sama sekali gelap tak ada lampu satupun. Barisan warung tutup bertebaran di pojok-pojok, di pinggir jalan dan dekat saung mushola yang hancur ditiup angin. Cukup horor, sepi tak ada tanda-tanda kehidupan sedikitpun.
Setelah shalat magrib plus isya dijamak, kami rundingkan apakah pendakian terus dilanjutkan atau bermalam disini menunggu pagi? Bukan karena takut gelap atau apalah uka-uka seperti itu, tapi memang gerimis makin menjadi. Kami hanya khawatir bila hujan turun, akan banyak tanah longsor di depan.
Maklumlah, jalur pendakian dari Kiara Payung memang yang paling curam. Tak jarang kita harus berjalan merayap diantara jurang di kanan kiri, tetapi yang memberatkan adalah jalur pendakian yang seringkali berubah-ubah, menghilang dan berakhir di tebing yang sulit untuk didaki. Apalagi sekarang masih musim hujan—harus hafal kontur gunung ini untuk sampai ke puncak diantara longsoran-longsoran tanah dan ancaman mautnya—Nyawa taruhannya!. Itulah setidaknya informasi yang kami dapatkan dari teman-teman yang pernah mendaki Gunung Manglayang melalui jalur ini.
19.00 wib.
Dibutuhkan waktu sekitar 2½ jam dari pos pendakian pertama untuk sampai Puncak. Bila memang pendakian akan dilanjutkan, kami targetkan maksimal pukul 22.00 sudah sampai.
Dalam gerimis yang dingin, akhirnya kami putuskan untuk terus mendaki, sampai point di mana pendakian tak mungkin diteruskan. Tidak ada guide, diantara kami berdua bahkan tak ada yang pernah ke Puncak Manglayang sebelumnya. Tapi, ditengah hutan yang gelap disirami hujan gerimis, dengan senang hati kami tawar-tawarkan nyawa pada alam.
22.30 wib.
Lelah, jalur pendakian semakin curam.
Gelap, pohon-pohon terlalu lebat hingga sinar bulan dapat masuk.
Malang, senter utama tertinggal di kosan.
Sudah hampir dua jam kami berputar-putar mencari jalan, kembali mundur mencari jejak-jejak jalur pendakian hanya dengan diterangi sorotan sinar layar handphone dan senter korek gas. Sulit mendaki jika harus memegang lampu badai, kemiringan ketika itu sampai kira-kira 60 derajat. Cukup merinding juga, sekarang yang kesekian kalinya kami merayapi tanah-tanah gembur hasil longsoran. Pohon-pohon besar dengan lebar hampir satu meter tumbang silang melintang diatas, dihadapan kami. Syukurlah ketika itu sama sekali tidak hujan. Dengan senda gurau dan tawa-tawa ringan kami melanjutkan perjalanan.
Tak lama, kami istirahat di atas batang pohon tumbang itu, 5 jam perjalanan cukup menguras tenaga. Waktunya makan malam, Aku dan Ilham lahap sekali menghabiskan sebungkus nasi goreng yang tadi dibeli di kantin kampus. bahagia rasanya bisa berada dalam pendakian ini. Badan lelah tak masalah
00.30 wib.
Kemiringan 70 derajat. Masih mencari-cari jalan dalam gelap, menerobos semak-semak diantara pohon-pohon besar. Ratusan duri pohon-pohon jenis palmae tak henti-hentinya merintangi perjalanan. Badan penat membawa carrier 80 liter, basah oleh keringat sendiri. Kaki terasa berat untuk melangkah, hingga hanya mampu merayap dengan lutut—Kami tahu, puncak masih jauuuuh. Lelah mental, tenaga terkuras hampir habis, suasana hening, sepi sekali hingga suara anginpun tak terdengar, kecuali suara nafas kami yang tersengal-sengal.
Ada sedikit perasaan kalah menyelinap, bahwa ini semua hanyalah mimpi, semuanya gelap, suram. Dari celah diantara siluet-siluet besar pohon yang samar, terlihat hamparan titik-titik kecil lampu di bawah sana, rumah-rumah penduduk itu terlihat sangat damai dan tenang. Aku berfikir, disanalah seharusnya aku sekarang berada, sedang tidur nyaman dengan selimut yang hangat. Ah... puncak masih jauh, aku lelah, terlentang, bersandar ditanah yang curam.
01.00 wib.
Kami tidak mau kembali turun, terlalu jauh ke bawah.
Ilham terus naik ke atas, menerobos semak-semak duri, hanya untuk mencari tempat yang sedikit datar. Ini yang kedua kalinya dia naik dan dia akan turun untuk menjemputku dan mengambil carrier-nya. Heran juga aku dibuatnya, dia masih tampak tersenyum-senyum. Gila! Betul-betul mental baja. Sementara aku disini hanya terduduk menunggu, menunggu berita baik bahwa di atas ada tempat datar untuk bisa tidur sampai pagi.
Masih dalam gelap yang pekat, aku termenung, hanya sampai disinikah kekuatan mentalku? Bukankah situasi seperti ini yang aku cari? Yang mempermainkan keberanian, merayapi jurang dalam gelap untuk terus ke puncak. Aku tersenyum, menertawakan diriku sendiri. Sungguh disinilah tempat pembuktian itu!
Namanya juga Ilham, kerjaannya mengilhami orang kali ya...?? Semangatku kembali bangkit melihat sahabatku ini, tiba-tiba saja semua tenaga terkumpul. Langsung aku berdiri, membawa dua carrier sekaligus. Merayap-rayap sambil memanggil manggil namanya...
“Ya mef, lo dimana? Gw lagi turun nih, nyalain lampu lo...gw gak tau lo ada di sebelah mana???” terdengar jawaban ilham. Dari suaranya yang kecil tak jelas, pastilah dia jauh sekali di atas. Aku terus naik sambil berteriak-teriak sebagai signal posisiku berada.
“Di atas ada tempat agak datar mef!”, dengan wajah riang dia mengambil carrier-nya, “lumayan aman buat pasang sleeping bag!.
Aku hanya tersenyum bersemangat, “Prinsip satu!”, teriakku yang juga dijawabnya dengan kata-kata yang sama. Itulah kata-kata penyemangat sejak awal pendakian kami. Prinsip satu artinya pantang mundur, terus mendaki setiap tanah menanjak yang ditemui, sampai tidak mungkin untuk didaki lagi. Agak konyol memang, padahal ada prinsip lain yang lebih penting jika tersesat dalam pendakian. Kami belum tahu itu.
Sebidang tanah datar sudah terlewati, tapi kami terus mendaki. Kemiringan tanah belum banyak berubah, masih sekitar 70-75 derajat. Sambil makan coki-coki yang kesekian kalinya, Aku dan Ilham terus merayapi tanah yang makin curam. Hanya suara jejak langkah kami dan gesekan-gesekan semak duri yang terdengar. Hawa dingin mulai terasa menyergap. Betul-betul ‘prinsip satu’ ketika itu.
02.00 wib.
“Jangan dzalim!”. Entah kata-kata siapa, yang pasti suara itu seperti terngiang-ngiang dalam telingaku. Aku setuju saja, memang benar tubuh ini punya hak untuk dapat istirahat. Akhirnya kami putuskan untuk melaksanakan “Prinsip dua”, pasang sleeping bag dan langsung tidur. Ada sedikit tempat agak datar yang aman terhalang dari jurang-jurang. Kami masuk dalam sleeping bag yang hangat, dengan kaki menjejak batang pohon agar tubuh tidak terus merosot ke bawah.
Cukup horrible, ketika hampir tertidur, sekira 3 meter tepat di atas kami cabang-cabang pohon berguncang hebat. Tidak ada angin sama sekali atau suara monyet usil mungkin? Keributan yang mengejutkan, tanpa ada petunjuk siapa yang menggerak-gerakkannya... Segera saja terlintas dalam ingatanku rekaman video hantu bondowoso. “Ah nggak mungkin...!! itu kan hanya penipuan aja, bohong!!”. Sisi rasionalku menjawab.
Aku dan Ilham hanya bisa saling pandang, terkesima dibuatnya...
to be continued...