Rabu, 28 November 2018

Menguasai Fungsi 16 Tenses

Belajar Bahasa Inggris merupakan perjalanan yang panjang dan kita tidak tahu kapan akan sampai di tujuan akhir, akan selalu ada hal baru yang kita pelajari. Tapi yang pasti, seiring dengan waktu dan usaha yang kita investasikan untuk menguasai bahasa ini, kualitas bahasa Inggris kita akan semakin baik.

Dalam tulisan ini saya akan berbagi tips yang sangat terlalu general tentang "belajar Bahasa Inggris itu harus dimulai darimana sih?". Ini peta belajarnya bro and sist:

1. Setiap kali menambah vocabulary baru, kita wajib tahu jenis katanya apakah noun, adjective atau verb karena ini menentukan bagaimana kata tersebut digunakan dalam kalimat apakah sebagai Subjek, Predicate atau Object. Ex. Beauty (n); beautiful (adj); beautify (v); beautification (n); beautified (v3); beautician (n, person) and beautifully (adv. Manner)

2. Belajar pola-pola kalimat di 16 tenses, kalimat positif, negatif dan tanya. Termasuk fungsi tenses-nya yaitu harus tahu kapan harus menggunakan tenses yang mana (bingung ga bacanya :D_) nah disini nih saya mau coba-coba cari duit tambahan dari internet :D silahkan di share ya link downloadnya, bukan file hasil downloadnya ok :D materi disampaikan dengan mudah dalam bahasa Indonesia agar semua orang dari level paling awal bisa mudah memahaminya. Saya buat file ini hampir 4 tahun lalu gratisan untuk murid-murid saya ketika saya masih bekerja sebagai guru di salah satu lembaga kursus di Bogor, yang ada di Taman Yasmin.

Screenshot halaman pertama Fungsi 16 Tenses

3. Belajar struktur kalimat yaitu materi compound dan complex sentences. Materi ini super duper penting untuk membuat bahasa Inggris kita tidak hanya benar grammar-nya tetapi juga terstruktur dengan baik kalimatnya. Disini kita belajar Noun Clause, Adjective Clause Adverbial Clause. Sangat bermanfaat juga untuk speaking, kalau sudah menguasai materi struktur kalimat akan lebih  mudah bagi kita untuk menyusun kalimat. Sementara grammar membantu kita untuk menyusun kata.

4. Belajar materi-materi utama grammar semacam elliptical construction, causative, inversion, dangling modifier, subjunctive, modal perfective, conditional sentences dan blah blah blah. Materi-materi grammar tersebut relatif materi yang pendek-pendek jika dibandingkan dengan materi struktur kalimat.

5. Belajar agar bahasa Inggris kita tidak hanya benar grammarnya, terstruktur dengan baik kalimatnya tapi juga adalah bahasa Inggris yang proper, yaitu bahasa Inggris dengan pilihan kata yang tepat dan ekspresi yang lazim digunakan oleh para English native speaker (bisa baca novel dan nonton film berbahasa Inggris, tapi saya lebih suka nonton para Youtuber Bahasa Inggris yang ga ada capenya ya cuap cuap terus hehe) . Inilah yang dimaksud dengan belajar bahasa Inggris itu bagai perjalanan tanpa akhir yaitu perjalanan untuk bisa berbahasa Inggris yang proper, dan nanti ketika bahasa Inggris kita makin lama makin matang, tak terasa sebentar lagi udah waktunya kita mati :) haha.. Jadi jangan lupa ya tujuan utama kita hidup bukan buat belajar Bahasa Inggris, tapi buat beribadah dan mempersiapakan diri untuk hidup di akhirat (jadi ceramah :D) ya belajar dan cari nafkah dengan niat ibadah kalau begitu :D

6. Perbanyak perbendaharaan Phrasal Verb, ini materi yang rasanya tidak ada habisnya yaitu konfigurasi verb+preposisi yang bisa memiliki arti yang berbeda total dari verb atau preposisi jika mereka berdiri sendiri-sendiri, dan ada buanyaaak sekali konfigurasi Phrasal Verb, baik yg separable maupun inseparable phrasal verb. Misalnya; kata get atau take bisa bermacam macam artinya tergantung preposisinya ie. take off, take on, take over, take up, take after, take back blah blah blah.

Itulah tips-tips belajar tata bahasa Inggris, bukan tips speaking English ya :D karena yang jago grammar belum tentu jago speaking. Grammar itu KNOWLEDGE, relative mudah dan cepat dikuasai yaitu pahami dan hapalkan. Speaking itu SKILL, butuh latihan dan waktu yang jauh lebih lama untuk bisa speaking dengan lancar, spontan dan natural tapi dengan grammar yang benar, struktur kalimat yang baik dan bahasa yang proper.

Langsung aja ke bagian download. File materinya bisa di download di sini

atau copy-paste alamat ini di address bar
http://turboagram.com/4jVU


1. Buka link diatas langsung menggunakan browser.
2. Jika ada permintaan notifikasi, klik "deny' aja dan lanjut.
3. Kalau buka di Android dan ada pop up untuk download file Apk, klik "cancel"
4. Klik "Skip Ad"
5. Di halaman berikutnya, klik "Atau lanjutkan ke situs web".
6. Setelah file terbuka, klik dropdown menu di settingan di pojok kanan atas untuk mengunduh file.


Note: Teman-teman bisa share link halaman blog ini atau link download diatas ke adik yang masih sekolah atau kuliah, atau ke WA grup teman kantor, tapi bukan share file asli hasil downloadnya yak :D.. saya lagi coba2 mendulang beras dari internet :D

Nobody would want to give me easy money, including you. However, by clicking on the above download link, you literally let me earn some  :D

Selamat Belajar!









Selasa, 11 Mei 2010

One day in my diary

Wednesday, May 5th

This morning I got an SMS from Mila saying that last night she dreamt of a “Kepompong” cracked and fallen off the ground [Kepompong is also the name given by Mila for our group. The members are Ilham, Friska, Mila and me]. I replied that it was just her unreasonable fright.

At the Dzuhur time when I was at the campus, Mila sent me messages asking me to accompany her having lunch and browsing on the internet. I felt a little bit confused as I had promised to meet Ilham at campus later in 30 minutes. Ilham told me in SMS that he had left his broken motorbike in his friend’s house, Syarif. He was back then on the way to Jatinangor by bus. Yup we were going back home together on my motorbike.

Ilham via sms, “Mef gw baru sampe Nangor nehh!!”

Finally after messaging a lot with Mila, “Mef, aku tunggu km di depan kecamatan ya skg”

Me, ??????????? Waaaaaa…..


Okay!! I would first take Mila to a hairdresser coz she wanted to have her front hair cut, and then I’d also take Ilham there.

On the way to Kecamatan, I typed a message to Ilham to tell him that he didn’t have to come to campus but to wait for me in PangDam. But before I sent the message, another SMS arrived, “Mef, gw ada di depan kecamatan bareng sama Mila dan Friska juga!!, lu dateng sini aja skg yak!!, bekakakakak…!!”

“Whoaaahhh??? Hahahaha…” I was so surprised!! How come!! Kompong would eventually be hanging out together again after our 3-day camping trip at the peak of Mt. Manglayang about a month before. I accelerated my motorbike excitedly, then
 I laughed out loud when I saw them sitting together in front of a small resto. “Hahahahahahahahahahahahah
ahahahahaha….” That was an unexpected meeting!!!

Lastly, I was told, when we were having lunch together,  that they each got surprised like I did! [Lunch time, I just sat around without ordering any food to eat, I was fasting back then, so thirsty]

Here is the story:

Ilham would meet me in jatinangor, but he didn’t tell me he had arranged an appointment with Friska. And Ilham didn’t know that Friska had been with Mila awaiting for him in front of kecamatan.

Mila had an appointment with me there as well, and I just knew in the last second that she had already been with Friska. It was so funny coz Mila didn’t know that Ilham would show up to meet Friska since she didn't tell Mila about it at all. Soo, finally we met up that day… hohohohoho… what a unique meeting!!

Having had lunch together, Kompong hanged out at Jatos’ food court on the 3rd floor, it had a free hotspot. The two others accompanied Mila to find the information she needed on the internet. My headache was getting worse and worse, then I decided to take a nap in Musholla. 


I got up and felt better and joined them again. Friska told me that when I wasn't there with them, Ilham and Mila played around just like two little kids. Mila ran after Ilham to get her diary back from him. When they were running around the food court, many other visitors looked at them curiously!!! Hahahahaha…the way they looked might still be like school-aged students, so people wouldn’t think that Mila and Ilham had been in the last year in university. They must've been so funny! I wish I could've seen them….

At around 4 pm, Friska told us that it was only 10 minutes left before the movie began; we went up one more floor. That afternoon we watched a movie titled “The Clash of The Titans”. I liked that movie; I liked being together with my friends: Ilham, Friska and Mila at that movie theater although Mila and Ilham were very noisy kidding to each other.. I and Friska, sitting side by side, seriously watched the movie, though sometimes I teased Mila coz she sat at my left side, only an arm away. I managed to lick Friska’s hand in the middle of the movie show.. wakakakakak… she looked between feared and pleased. (Pleased?? Hahaha... not really sure either :D)

We all separated in front of Jatinangor Town Square at around 6 pm, I broke the fasting with some popcorn. Mila and Friska went somewhere I didn’t know. I and Ilham just went back home straightly riding on my motorbike. Hmmm, what a good day... ^_o

Tonight I’m writing this diary, not in a good mood; my friend Ilham has just left by his bicycle with a carrier full of stuff. I heard rumors that he won’t live here any longer, moving to Dipati Ukur… hmm so sad to realize it actually after years we've been through together. But what confuses me most is why he wants to move away. Well, I just don’t want to be trapped in a conflict that may break our friendship, so I just let him go. 


I am going to call Mila just to share what I am now concerned about.

Hope she has a good way out!

Jumat, 20 November 2009

stress stress


segelas air.....
Beratnya sebenarnya sama,
tapi semakin lama kita memegangnya,
maka bebannya akan semakin terasa berat.

Jika kita membawa beban kita terus menerus,
lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi.
Beban itu akan terasa bertambah beratnya.

Apa yang harus kita lakukan jika penyebab stress itu belom bisa diselesaikan adalah meletakkan beban tersebut,
istirahatlah sejenak sebelum mengangkatnya lagi.

Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik,
agar kita dapat mengembalikan energi dan mampu mengangkatnya lagi.

untuk sebagian besar penyebab stress,,...bukan berat beban yang membuat kita stress, tetapi lamanya kita memikul beban tersebut. (Stephen R. Covey)

Senin, 27 April 2009

Gunung Manglayang, Bandung.


-->Amateur Avontourir

-->
Bila kita sedang berkendara di Jalan Soekarno-Hatta Bandung ke arah Cibiru, maka segera sebuah jembatan akan kita lewati sebelum Pasar pakaian bekas Gede Bage. Di atas jembatan itu lihatlah ke kiri, serangkaian gunung-gunung indah yang dengan megahnya berjejer memanjang dari timur yaitu Gunung Manglayang sampai ke barat terus bersambung dengan bukit-bukit kapur di Padalarang.

Memang Kota Bandung dikelilingi oleh gunung. Menurut mitos, dahulu kala Kota Bandung yang sekarang ini adalah sebuah gunung yang sangat besar. Gunung Sunda namanya. Bayangkan saja, gunung-gunung yang mengelilingi kota bandung adalah sisa-sisa dari gunung sunda yang meletus. Bagian puncak dan badan utama Gunung Sunda hancur dan luluh hingga terbentuklah Danau Bandung, menyisakan “bukit-bukit kecil” yang mengelilingi kota danau ini.

Sudah hampir tiga tahun aku kuliah di kota ini, di jatinangor lebih tepatnya. Tertantang juga hati ini untuk menaklukkan puncak-puncak deretan gunung itu. Dengan pertimbangan, waktu luang yang hanya tiga hari dan uang bulanan yang telah menipis, maka Gunung Manglayang adalah pilihan tepat yang tidak menghabiskan banyak biaya.

27 Maret 2009, jam di handphone telah menunjukkan pukul 16.30, akhirnya dia datang juga, Ilham, teman satu kelas di kampus, hanya berdua kami akan menaklukkan Puncak Manglayang. ....
Dari Masjid Ibnu Sina Kampus Unpad Jatinangor, kami berangkat menuju Bumi Perkemahan Kiara Payung, trus titip motor di rumah penduduk. Kemudian kami langsung bergerak menyusuri jalan aspal yang sudah rusak berat menuju pos pendakian pertama. Tampaknya sudah tidak digunakan lagi, tidak ada tiket masuk yang harus dibeli.
18.00 wib.
Kami sampai di pos pertama. Sama sekali gelap tak ada lampu satupun. Barisan warung tutup bertebaran di pojok-pojok, di pinggir jalan dan dekat saung mushola yang hancur ditiup angin. Cukup horor, sepi tak ada tanda-tanda kehidupan sedikitpun.
Setelah shalat magrib plus isya dijamak, kami rundingkan apakah pendakian terus dilanjutkan atau bermalam disini menunggu pagi? Bukan karena takut gelap atau apalah uka-uka seperti itu, tapi memang gerimis makin menjadi. Kami hanya khawatir bila hujan turun, akan banyak tanah longsor di depan.
Maklumlah, jalur pendakian dari Kiara Payung memang yang paling curam. Tak jarang kita harus berjalan merayap diantara jurang di kanan kiri, tetapi yang memberatkan adalah jalur pendakian yang seringkali berubah-ubah, menghilang dan berakhir di tebing yang sulit untuk didaki. Apalagi sekarang masih musim hujan—harus hafal kontur gunung ini untuk sampai ke puncak diantara longsoran-longsoran tanah dan ancaman mautnya—Nyawa taruhannya!. Itulah setidaknya informasi yang kami dapatkan dari teman-teman yang pernah mendaki Gunung Manglayang melalui jalur ini.
19.00 wib.
Dibutuhkan waktu sekitar 2½ jam dari pos pendakian pertama untuk sampai Puncak. Bila memang pendakian akan dilanjutkan, kami targetkan maksimal pukul 22.00 sudah sampai.
Dalam gerimis yang dingin, akhirnya kami putuskan untuk terus mendaki, sampai point di mana pendakian tak mungkin diteruskan. Tidak ada guide, diantara kami berdua bahkan tak ada yang pernah ke Puncak Manglayang sebelumnya. Tapi, ditengah hutan yang gelap disirami hujan gerimis, dengan senang hati kami tawar-tawarkan nyawa pada alam.
22.30 wib.
Lelah, jalur pendakian semakin curam.
Gelap, pohon-pohon terlalu lebat hingga sinar bulan dapat masuk.
Malang, senter utama tertinggal di kosan.
Sudah hampir dua jam kami berputar-putar mencari jalan, kembali mundur mencari jejak-jejak jalur pendakian hanya dengan diterangi sorotan sinar layar handphone dan senter korek gas. Sulit mendaki jika harus memegang lampu badai, kemiringan ketika itu sampai kira-kira 60 derajat. Cukup merinding juga, sekarang yang kesekian kalinya kami merayapi tanah-tanah gembur hasil longsoran. Pohon-pohon besar dengan lebar hampir satu meter tumbang silang melintang diatas, dihadapan kami. Syukurlah ketika itu sama sekali tidak hujan. Dengan senda gurau dan tawa-tawa ringan kami melanjutkan perjalanan.
Tak lama, kami istirahat di atas batang pohon tumbang itu, 5 jam perjalanan cukup menguras tenaga. Waktunya makan malam, Aku dan Ilham lahap sekali menghabiskan sebungkus nasi goreng yang tadi dibeli di kantin kampus. bahagia rasanya bisa berada dalam pendakian ini. Badan lelah tak masalah
00.30 wib.
Kemiringan 70 derajat. Masih mencari-cari jalan dalam gelap, menerobos semak-semak diantara pohon-pohon besar. Ratusan duri pohon-pohon jenis palmae tak henti-hentinya merintangi perjalanan. Badan penat membawa carrier 80 liter, basah oleh keringat sendiri. Kaki terasa berat untuk melangkah, hingga hanya mampu merayap dengan lutut—Kami tahu, puncak masih jauuuuh. Lelah mental, tenaga terkuras hampir habis, suasana hening, sepi sekali hingga suara anginpun tak terdengar, kecuali suara nafas kami yang tersengal-sengal.
Ada sedikit perasaan kalah menyelinap, bahwa ini semua hanyalah mimpi, semuanya gelap, suram. Dari celah diantara siluet-siluet besar pohon yang samar, terlihat hamparan titik-titik kecil lampu di bawah sana, rumah-rumah penduduk itu terlihat sangat damai dan tenang. Aku berfikir, disanalah seharusnya aku sekarang berada, sedang tidur nyaman dengan selimut yang hangat. Ah... puncak masih jauh, aku lelah, terlentang, bersandar ditanah yang curam.
01.00 wib.
Kami tidak mau kembali turun, terlalu jauh ke bawah.
Ilham terus naik ke atas, menerobos semak-semak duri, hanya untuk mencari tempat yang sedikit datar. Ini yang kedua kalinya dia naik dan dia akan turun untuk menjemputku dan mengambil carrier-nya. Heran juga aku dibuatnya, dia masih tampak tersenyum-senyum. Gila! Betul-betul mental baja. Sementara aku disini hanya terduduk menunggu, menunggu berita baik bahwa di atas ada tempat datar untuk bisa tidur sampai pagi.
Masih dalam gelap yang pekat, aku termenung, hanya sampai disinikah kekuatan mentalku? Bukankah situasi seperti ini yang aku cari? Yang mempermainkan keberanian, merayapi jurang dalam gelap untuk terus ke puncak. Aku tersenyum, menertawakan diriku sendiri. Sungguh disinilah tempat pembuktian itu!
Namanya juga Ilham, kerjaannya mengilhami orang kali ya...?? Semangatku kembali bangkit melihat sahabatku ini, tiba-tiba saja semua tenaga terkumpul. Langsung aku berdiri, membawa dua carrier sekaligus. Merayap-rayap sambil memanggil manggil namanya...
“Ya mef, lo dimana? Gw lagi turun nih, nyalain lampu lo...gw gak tau lo ada di sebelah mana???” terdengar jawaban ilham. Dari suaranya yang kecil tak jelas, pastilah dia jauh sekali di atas. Aku terus naik sambil berteriak-teriak sebagai signal posisiku berada.
“Di atas ada tempat agak datar mef!”, dengan wajah riang dia mengambil carrier-nya, “lumayan aman buat pasang sleeping bag!.
Aku hanya tersenyum bersemangat, “Prinsip satu!”, teriakku yang juga dijawabnya dengan kata-kata yang sama. Itulah kata-kata penyemangat sejak awal pendakian kami. Prinsip satu artinya pantang mundur, terus mendaki setiap tanah menanjak yang ditemui, sampai tidak mungkin untuk didaki lagi. Agak konyol memang, padahal ada prinsip lain yang lebih penting jika tersesat dalam pendakian. Kami belum tahu itu.
Sebidang tanah datar sudah terlewati, tapi kami terus mendaki. Kemiringan tanah belum banyak berubah, masih sekitar 70-75 derajat. Sambil makan coki-coki yang kesekian kalinya, Aku dan Ilham terus merayapi tanah yang makin curam. Hanya suara jejak langkah kami dan gesekan-gesekan semak duri yang terdengar. Hawa dingin mulai terasa menyergap. Betul-betul ‘prinsip satu’ ketika itu.
02.00 wib.
“Jangan dzalim!”. Entah kata-kata siapa, yang pasti suara itu seperti terngiang-ngiang dalam telingaku. Aku setuju saja, memang benar tubuh ini punya hak untuk dapat istirahat. Akhirnya kami putuskan untuk melaksanakan “Prinsip dua”, pasang sleeping bag dan langsung tidur. Ada sedikit tempat agak datar yang aman terhalang dari jurang-jurang. Kami masuk dalam sleeping bag yang hangat, dengan kaki menjejak batang pohon agar tubuh tidak terus merosot ke bawah.
Cukup horrible, ketika hampir tertidur, sekira 3 meter tepat di atas kami cabang-cabang pohon berguncang hebat. Tidak ada angin sama sekali atau suara monyet usil mungkin? Keributan yang mengejutkan, tanpa ada petunjuk siapa yang menggerak-gerakkannya... Segera saja terlintas dalam ingatanku rekaman video hantu bondowoso. “Ah nggak mungkin...!! itu kan hanya penipuan aja, bohong!!”. Sisi rasionalku menjawab.
Aku dan Ilham hanya bisa saling pandang, terkesima dibuatnya...
to be continued...